
When the Design Finally Finished.
by Jujea
ongoing · 1 episodes · other
real_person · Rating: teen
31 reads · 2 loves
Content warnings: Strong language / profanity
Menjadi siswi baru kelas sebelas di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat Arunnika harus beradaptasi dengan banyak hal, mulai dari lingkungan sekolah yang masih asing, teman-teman yang belum begitu ia kenal, hingga tugas-tugas desain yang seolah tidak pernah ada habisnya. Di tengah keinginannya untuk menjalani hari-hari sekolah dengan tenang, Arunnika justru dipertemukan dengan Rangga, teman satu jurusannya yang berhasil membuat kesan pertama di sekolah baru jauh dari kata menyenangkan. Semuanya bermula ketika Rangga merusak tugas desain yang telah Arunnika kerjakan dengan susah payah. Bagi Rangga, kejadian itu mungkin hanyalah sebuah kesalahan yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf. Namun, bagi Arunnika, tugas yang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan kreativitasnya itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Sejak saat itu, keduanya tidak pernah benar-benar akur. Selalu ada saja hal yang membuat mereka berdebat, entah karena perkataan Rangga yang menyebalkan atau sikap Ika yang tidak mau mengalah begitu saja. Meski begitu, waktu perlahan mengubah hubungan mereka. Setelah beberapa kejadian dan sebuah permintaan maaf yang akhirnya diterima, Arunnika dan Rangga mulai berdamai. Percakapan yang awalnya hanya berisi keluhan dan sindiran berubah menjadi obrolan ringan di sela-sela pelajaran produktif, tugas ilustrasi, revisi desain, hingga proyek-proyek DKV yang terkadang membuat mereka harus menghabiskan waktu lebih lama di sekolah. Tanpa sadar, keduanya mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Bagi Arunnika, Rangga hanyalah teman satu jurusan yang awalnya sangat ingin ia hindari, tetapi kemudian menjadi seseorang yang menyenangkan untuk diajak berbicara. Sementara bagi Rangga, kedekatan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia anggap biasa. Ia mulai mengingat hal-hal kecil tentang Arunnika, mencari-cari alasan untuk mengajaknya berbicara, bahkan diam-diam memperhatikan gadis itu ketika mereka sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Terkadang, ia menawarkan bantuan saat Arunnika kesulitan menyelesaikan desainnya. Di lain waktu, ia sengaja mengganggu konsentrasi Arunnika hanya untuk mendengar gadis itu mengomel seperti biasanya. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan disadari Arunnika, tetapi justru menjadi bagian dari hari-hari yang paling ditunggu Rangga. Rangga tahu bahwa ia menyukai Arunnika. Sayangnya, mengetahui perasaannya sendiri tidak serta-merta membuatnya berani mengungkapkan semuanya. Ia terlalu takut jika pengakuan itu justru mengubah hubungan mereka, membuat percakapan sederhana terasa canggung, atau bahkan menjauhkan Ika dari hidupnya. Baginya, mempertahankan kedekatan yang sudah ada terasa jauh lebih mudah daripada mengambil risiko kehilangan semuanya hanya karena sebuah pengakuan. Akhirnya, Rangga memilih untuk tetap menjadi dirinya yang biasa di hadapan Arunnika. Tetap bercanda, tetap mengganggunya sesekali, dan tetap berada di sisinya tanpa pernah menjelaskan mengapa kehadiran gadis itu terasa begitu penting baginya. Sementara Arunnika terus menjalani hari-harinya sebagai siswi DKV, menyelesaikan tugas demi tugas dan menikmati pertemanan yang perlahan tumbuh di sekolah barunya, ia tidak pernah benar-benar menyadari bahwa di balik semua pertengkaran kecil dan tawa yang mereka bagi, ada perasaan yang diam-diam tumbuh di hati seseorang. Sebab, terkadang, jatuh cinta tidak selalu tentang siapa yang lebih dahulu mengungkapkan perasaan. Ada pula seseorang yang memilih menyimpannya rapat-rapat, bukan karena tidak ingin memiliki, melainkan karena terlalu takut kehilangan apa yang sudah dimiliki. Dan bagi Rangga, mungkin Arunnika akan selalu menjadi bagian dari kalimat yang tidak pernah selesai ia ucapkan. Barangkali, suatu hari nanti, ia akan berani. Namun, untuk saat ini, membiarkan Arunnika tetap berada di sisinya saja sudah terasa lebih dari cukup.
